Literasi keuangan dan pengelolaan keuangan adalah dua hal yang saling terkait: kemampuan memahami konsep keuangan menentukan seberapa cermat seseorang mengatur pemasukan, pengeluaran, tabungan, hingga investasi. Isu ini makin penting karena tekanan gaya hidup konsumtif, ketidakpastian ekonomi, dan maraknya produk keuangan digital menuntut keputusan finansial yang matang, baik pada mahasiswa, rumah tangga, maupun pelaku UMKM. Kajian di bidang ini berkembang dari sekadar mengukur tingkat literasi menuju analisis perilaku, sikap keuangan, inklusi, hingga dampaknya terhadap kinerja usaha dan perencanaan masa depan.
Riset literasi keuangan dan pengelolaan keuangan berangkat dari pertanyaan sederhana: seberapa penting literasi bagi pengelolaan keuangan pribadi. Perhatian memuncak pada 2020–2022, saat pandemi mendorong kajian besar-besaran pada mahasiswa, ibu rumah tangga, dan pelaku UMKM, dengan variabel gaya hidup, sikap keuangan, hingga literasi syariah mulai menempel. Setelah itu arahnya melebar: bukan lagi sekadar mengukur pengaruh literasi, tetapi menghubungkannya dengan inklusi keuangan, kinerja usaha, perencanaan dana pensiun, bahkan penanaman kebiasaan keuangan cerdas sejak anak usia dini.
Isu literasi keuangan pada 2026 melebar dari ruang kelas sampai rumah tangga dan UMKM. Literasi tidak berdiri sendiri: ia dikaitkan dengan pengelolaan keuangan, perilaku, inklusi, kontrol diri, gaya hidup, uang saku, utang, pendapatan, hingga aplikasi keuangan. Pada UMKM Jakarta Utara dan Medan, literasi, pengelolaan, perilaku, dan inklusi diuji sebagai penentu keberlanjutan serta kinerja usaha. Pada Generasi Z dan mahasiswa, literasi bersama pengelolaan uang saku, kontrol diri, dan motivasi belajar dibahas sebagai faktor kesiapan finansial, produktivitas, serta penekan perilaku konsumtif. Riset rumah tangga menambah pendapatan, pendidikan, tanggungan, dan pengelolaan utang sebagai penjelas stabilitas keuangan.
Sepanjang 2025, riset soal literasi keuangan dan pengelolaan keuangan bergerak dari pertanyaan sederhana: apakah paham keuangan membuat orang mengelola uangnya lebih baik? Jawabannya cenderung ya, dan berlaku luas—dari pelaku UMKM di Jombang, Jeneponto, hingga Rejowinangun, mahasiswa, penerima bantuan PKH di Desa Inomata, karyawan swasta, sampai pengelola anggaran di Kementerian Komunikasi dan Informatika. Literasi keuangan konsisten jadi faktor penentu kinerja dan tertib kelola. Beberapa kajian menambah variabel lain: literasi pajak, pengetahuan akuntansi, modal pinjaman, sikap menabung, toleransi risiko, hingga adopsi aplikasi dan teknologi finansial. Titik lemahnya juga sama: pemahaman keuangan masih rendah, terutama di kalangan mahasiswa dan pelaku usaha kecil.
Riset pengelolaan keuangan sepanjang 2024 menyorot kelompok yang berbeda-beda: pelaku UMKM di Tanggulangin dan Cimahi, mahasiswa, tenaga kerja muda, guru PNS di Sijunjung, hingga siswa SD di Bengkulu. Benang merahnya, literasi keuangan tetap jadi penentu utama kualitas pengelolaan keuangan, tetapi jarang bekerja sendirian. Inklusi keuangan dan perencanaan keuangan memperkuat efeknya, sementara gaya hidup hedonis dan sikap keuangan yang buruk melemahkannya. Literasi pelaku UMKM masih naik-turun, sedangkan pada mahasiswa kesadaran mengatur uang sering kalah oleh kebiasaan boros. Intervensi edukasi sejak usia sekolah dinilai mampu membentuk kebiasaan menabung dan mengelola uang secara bertanggung jawab.
Sepanjang 2023, riset tentang literasi keuangan dan pengelolaan keuangan banyak menyorot kelompok mahasiswa, generasi Z, pelaku UMKM, hingga perempuan pengelola keuangan keluarga. Pola temuannya cukup konsisten: literasi keuangan meningkatkan kualitas perilaku pengelolaan keuangan, baik pada skala pribadi maupun usaha. Faktor pendamping seperti sikap keuangan, perencanaan keuangan, inklusi keuangan, dan pembelajaran akuntansi turut memperkuat hasil tersebut. Gaya hidup digital—termasuk maraknya pay later—dan perilaku konsumtif menjadi sisi lain yang perlu diwaspadai karena dapat menggeser prioritas keuangan. Pada UMKM, literasi keuangan dan pengelolaan yang rapi berkaitan dengan kinerja serta pengembangan usaha, sementara pada masyarakat kota, ketiganya dikaitkan dengan kesiapan dana pensiun.
Riset 2022 tentang literasi keuangan dan pengelolaan keuangan menyorot beragam kelompok: pelaku UMKM, mahasiswa, ibu rumah tangga, anak usia dini, hingga pengelola keuangan daerah. Literasi keuangan terbukti menjadi faktor penting dalam perilaku dan kualitas pengelolaan keuangan. Pada UMKM di Kabupaten Bekasi, faktor demografi, literasi keuangan, dan sikap keuangan dikaitkan dengan perilaku pengelolaan keuangan. Bagi mahasiswa, literasi keuangan semakin urgen saat pandemi Covid-19 untuk menjaga keuangan pribadi. Pada ibu rumah tangga, literasi keuangan berpengaruh terhadap pengelolaan keuangan rumah tangga. Perencanaan dana pensiun dipengaruhi literasi keuangan, pengelolaan keuangan, dan sikap menabung, dengan tingkat pendidikan sebagai variabel moderasi. Literasi keuangan juga perlu ditanamkan sejak anak usia dini dan diterapkan di instansi pengelola keuangan daerah.
Sepanjang 2021, riset tentang literasi keuangan dan pengelolaan keuangan bergerak dari ruang kuliah sampai dapur rumah tangga. Pandemi Covid-19 menjadi latar kuat: generasi Z didorong memperkuat literasi agar mampu merencanakan keuangan di tengah ketidakpastian. Pada mahasiswa, literasi keuangan dan sikap terhadap uang terbukti menentukan seberapa bijak mereka mengelola keuangan; pola serupa muncul di keluarga, di mana literasi dan sikap terhadap uang memengaruhi perencanaan keuangan rumah tangga. Kajian lain menyoroti literasi keuangan syariah sebagai bekal mahasiswa menghindari masalah keuangan, sementara pelaku UMKM di Desa Gemeh, Kepulauan Talaud, diuji kaitannya antara literasi dan pengelolaan usaha. Program pengabdian masyarakat melengkapi gambaran ini dengan menjadikan pengelolaan keuangan keluarga sebagai pintu masuk peningkatan literasi.
Sepanjang 2020, riset tentang literasi keuangan dan pengelolaan keuangan menyorot dua kelompok utama: mahasiswa dan pelaku UMKM. Studi pada mahasiswa Manajemen Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara menunjukkan literasi keuangan dan gaya hidup sama-sama memengaruhi cara mereka mengelola uang. Di kalangan UMKM Kecamatan Cinere, Depok, tingkat literasi keuangan terbukti berpengaruh terhadap pengelolaan keuangan usaha. Dua kajian lain menegaskan literasi keuangan berperan besar dalam pengelolaan keuangan pribadi, sekaligus menyoroti bahwa pemahaman keuangan mahasiswa di kelas akuntansi masih tergolong rendah.
Sepanjang 2015–2019, riset literasi keuangan di Indonesia bergerak dari sekadar menyadarkan pentingnya pemahaman keuangan ke arah mengukur dampaknya pada perilaku. Kajian di jurnal akuntansi dan manajemen menempatkan literasi sebagai kebutuhan dasar agar orang terhindar dari kesulitan keuangan, lalu menguji kaitannya dengan cara mahasiswa dan pelaku UMKM mengelola uang. Hasilnya cukup konsisten: literasi keuangan berpengaruh terhadap perilaku pengelolaan keuangan, baik pada mahasiswa maupun UMKM. Studi tentang mahasiswa juga memasukkan pengelolaan uang saku dan pengetahuan galeri investasi sebagai faktor yang mendorong minat berinvestasi di pasar modal.
Sumber: OpenAlex. Ringkasan disusun dari abstrak jurnal — untuk detail lengkap, selalu cek jurnal aslinya via tautan.
Tulis topik yang kamu butuhkan — misalnya "dampak game online pada prestasi siswa". Kami rangkumkan dari jurnal ilmiah dan terbitkan di situs ini, gratis.