Beranda › Topik

Stunting Balita Faktor Risiko

90 jurnal 2011–2026 830 total sitasi

Stunting pada balita masih jadi persoalan gizi paling membandel di Indonesia, dan upaya menurunkannya bergantung pada seberapa tepat kita mengenali apa yang menyebabkannya. Persoalannya berlapis: bukan cuma soal asupan makan, tapi juga sanitasi, akses layanan kesehatan, pendidikan ibu, hingga kondisi ekonomi keluarga. Karena itu, riset tentang faktor risiko makin meluas—dari studi lokal di puskesmas dan kabupaten sampai telaah lintas negara—untuk memetakan pemicu mana yang paling menentukan di tiap wilayah, sehingga intervensi bisa lebih terarah dan tidak sekadar seragam.

90
Jurnal
2023
Puncak publikasi
830
Total sitasi
230
Sitasi tertinggi
Intisari
Evolusi riset

Riset stunting balita berangkat dari kajian lokal yang sempit: sepanjang 2012–2014 peneliti memburu faktor risiko di satu wilayah kerja puskesmas, dengan kelompok umur dipersempit, misalnya 12–36 bulan. Perhatian memuncak pada 2019–2022, ketika pertanyaan melebar — sanitasi dasar, wilayah tambang, dataran rendah versus tinggi, faktor ibu saat hamil, sampai masa pandemi. Rentang pandangnya pun naik ke tingkat provinsi dan kawasan Asia Tenggara. Selepas itu arahnya bergeser: dari sekadar mendaftar faktor risiko menuju sintesis bukti lewat literature review dan edukasi pencegahan.

Profil riset

siapa yang meneliti, di jurnal mana, dan karya paling berpengaruh

Peneliti paling aktif

  1. Ridwan Amiruddin2 kajian
  2. Nayla Kamilia Fithri2 kajian
  3. Susanto Susanto2 kajian
  4. Nur Fauzatul Hidayati2 kajian
  5. Yetti Purnama1 kajian

Jurnal teratas

  1. Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI)4 kajian
  2. Jurnal Kesehatan Tambusai3 kajian
  3. Journal of Innovative and Creativity (Joecy)2 kajian
  4. Hasanuddin Journal of Public Health2 kajian
  5. Malahayati Nursing Journal2 kajian

Garis waktu temuan

dari tahun ke tahun
20267 jurnal

Sepanjang 2026, kajian stunting balita di Indonesia bergerak dari dataran Sumatra hingga Papua, menyorot wilayah dengan prevalensi di atas rata-rata nasional 22,5%—Seluma 24,7%, Papua 24,8%, Astambul 20,89%. Riset di Seluma, Papua, Banjar, Medan, dan Nias Selatan menegaskan stunting sebagai persoalan gizi kronis yang berakar pada banyak faktor sekaligus, bukan penyebab tunggal. Karena itu pendekatan analisisnya pun melebar: dari studi kasus-kontrol dan pemodelan di puskesmas hingga penerapan explainable AI dan model stacking untuk menambal keterbatasan metode konvensional. Data rutin seperti e-PPGBM dan SKI 2023 jadi pijakan menyusun intervensi yang lebih tepat sasaran.

  • Prevalensi stunting di wilayah studi berkisar 20,89–24,8%, di atas rata-rata nasional 22,5%
  • Pemicunya multifaktorial dan multidimensional, bukan satu faktor tunggal
  • Pendekatan bergeser ke kasus-kontrol, model stacking, dan explainable AI
Jurnal kunci
01
Faktor Risiko Stunting Pada Balita Di Kabupaten Seluma Provinsi Bengkulu
Yetti Purnama, Rina Delfina, Rostika Flora dkk. — Health Research Journal Of Indonesia. (2026)
0 sitasi
02
Analisis Faktor Risiko Stunting pada Balita di Papua
Mesri Kartika, Semuel Piter Irab, Arie Rissing Natalia — Journal of Innovative and Creativity (Joecy) (2026)
0 sitasi
03 0 sitasi
04
FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI PUSKESMAS TEGAL SARI KOTA MEDAN
Mayasari Rahmadhani, Mayang Sari Ayu, Rosa Zorayatamin Damanik dkk. — Jurnal Kedokteran STM (Sains dan Teknologi Medik) (2026)
0 sitasi
05
Analisis Faktor Risiko Multidimensional terhadap Kejadian Stunting pada Balita dengan Pendekatan Kasus-Kontrol
Linda Ayu Rizka Putri, Masmur M., Grace Tedy Tulak dkk. — Murhum Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini (2026)
0 sitasi
06
Penerapan Explainable AI dan Model Stacking Untuk Mengindentifikasi Faktor Risiko Stunting Balita
Annisa Maulana Majid, Ismasari Nawangsih — Progresif Jurnal Ilmiah Komputer (2026)
0 sitasi
07
FAKTOR RISIKO STUNTING PADA BALITA DI WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS LOLOMATUA KABUPATEN NIAS SELATAN TAHUN 2026
Herthin Susila Mendrofa, Nababan Donal, Netti Etalia S dkk. — SEHAT Jurnal Kesehatan Terpadu (2026)
0 sitasi
Tampilkan semua 7 jurnal ▾
202512 jurnal

Riset Indonesia sepanjang 2025 mengidentifikasi faktor risiko stunting pada balita melalui tinjauan pustaka, scoping review, dan analisis data di sejumlah daerah, termasuk Jayapura, Sumba Barat Daya, dan Ponorogo. Stunting dipandang sebagai gangguan pertumbuhan linear akibat kekurangan gizi kronis dan penyakit infeksi berulang, terutama pada periode 1.000 hari pertama kehidupan. Dampaknya mencakup keterlambatan kognitif dan motorik serta penurunan kualitas sumber daya manusia. Beberapa studi mencatat prevalensi tinggi di wilayah timur Indonesia, sementara satu studi menggunakan Random Forest untuk menguji faktor risiko dominan.

  • Faktor risiko utama stunting adalah kekurangan gizi kronis dan penyakit infeksi berulang pada 1000 HPK.
  • Stunting berdampak pada keterlambatan kognitif, motorik, dan kualitas sumber daya manusia jangka panjang.
  • Prevalensi stunting tinggi ditemukan di Jayapura dan Sumba Barat Daya.
Jurnal kunci
01
Faktor Risiko Terjadinya Stunting pada Balita
Dwi Mayahetty Nasution — JURNAL IMPLEMENTA HUSADA (2025)
0 sitasi
02
FAKTOR-FAKTOR RISIKO STUNTING PADA BALITA: SCOPING REVIEW
Nita Indah Lestari, Silviatul Amalia — Jurnal Ilmu Kebidanan dan Kesehatan (Journal of Midwifery Science and Health) (2025)
0 sitasi
03
Analisis Faktor Risiko Kejadian Stunting Pada Anak Balita
Rina Mariani, Retno Puji Hastuti — Jurnal Keperawatan Aisyiyah (2025)
0 sitasi
04
FAKTOR RISIKO STUNTING PADA BALITA DI INDONESIA : LITERATURE REVIEW
Erin Desweni — Jurnal Kesehatan Saintika Meditory (2025)
0 sitasi
05
Faktor Risiko Kejadian Stunting Pada Balita Umur 24-60 Bulan
Rohaya Rohaya, Yulianto Yulianto, Suprida Suprida dkk. — Jurnal Ners (2025)
0 sitasi
06
FAKTOR-FAKTOR RISIKO YANG MEMPENGARUHI STUNTING PADA BALITA : LITERATUR RIVIEW
Anisa Putri, Lilis Lismayanti — JURNAL ILMIAH PENELITIAN MAHASISWA (2025)
0 sitasi
07
Gambaran Faktor Risiko Stunting pada Balita di UPTD Puskesmas Kintamani VI 2025
Ni Wayan Selpiani, Nı Komang Erny Astiti, Ni Luh Putu Sri Erawati — Jurnal Berita Kesehatan (2025)
0 sitasi
08
Analisis Faktor Risiko Kejadian Stunting Pada Balita Di Kabupaten Jayapura Tahun 2022
Anneke Yacob — Journal of Innovative and Creativity (Joecy) (2025)
0 sitasi
09
Identifikasi Faktor Risiko Stunting pada Balita di Desa Bila Cenge, Sumba Barat Daya
Angela Kurniadi, Linawati Hananta — MITRA Jurnal Pemberdayaan Masyarakat (2025)
0 sitasi
10
Analisis Faktor Risiko Stunting pada Balita di Ponorogo Menggunakan Random Forest dan Eksplorasi Data
Muhammad Verdyansyah, Anggil Trihinardi, M.Ilham Febriyano dkk. — RIGGS Journal of Artificial Intelligence and Digital Business (2025)
0 sitasi
11
Analisis faktor risiko penyebab stunting pada balita usia 6-59 bulan
Agi Kresna Regiawan, Esty Febriani, Mamlukah Mamlukah — Journal of Public Health Innovation (2025)
0 sitasi
12
Analisis Faktor Risiko Kejadian Stunting pada Balita Usia 1-23 Bulan di Kota Denpasar, Bali
Agnes Ika Ratnaningsih, Veni Indrawati — JGK Jurnal Gizi dan Kesehatan (2025)
0 sitasi
Tampilkan semua 12 jurnal ▾
202410 jurnal

Sepanjang 2024, berbagai penelitian di Indonesia menyoroti stunting balita sebagai masalah gizi kronis yang dipengaruhi banyak faktor. Berbagai studi lokal menguji keterkaitan kondisi ibu, lingkungan, dan ekonomi. Penelitian di Surakarta menunjukkan anemia pada kehamilan meningkatkan risiko bayi berat lahir rendah yang kemudian rentan stunting. Studi di Tangerang menekankan faktor lingkungan, sedangkan penelitian di Indramayu, Palembang, Kendari, Mukomuko, dan Pangkep mengidentifikasi peran sosial-ekonomi, penyakit infeksi, serta asupan gizi. Meta-analisis faktor maternal memperkuat bukti bahwa gizi dan kesehatan ibu sebelum hamil sangat menentukan. Pemetaan faktor risiko juga dilakukan untuk mendukung pencegahan primer.

  • Anemia saat hamil meningkatkan risiko bayi berat lahir rendah dan stunting.
  • Faktor lingkungan dan sosial-ekonomi kerap menjadi determinan utama stunting balita.
  • Meta-analisis menegaskan peran kuat faktor maternal terhadap stunting di Indonesia.
Jurnal kunci
01
Kejadian Anemia pada Masa Kehamilan sebagai Faktor Risiko Balita Stunting di Kota Surakarta
Hasna Azzahra, Listyani Hidayati, Endang Nur Widiyaningsih — Jurnal Penelitian Kesehatan "SUARA FORIKES" (Journal of Health Research "Forikes Voice") (2024)
1 sitasi
02
Faktor Risiko Lingkungan yang Berhubungan dengan Stunting pada Balita di Kelurahan Periuk Jaya Kota Tangerang
Eko Handoyo, Tri Joko, Nurjazuli Nurjazuli dkk. — Muhammadiyah Journal of Nutrition and Food Science (MJNF) (2024)
1 sitasi
03
Faktor Risiko Kejadian Stunting Pada Balita Di Kabupaten Indramayu
Muhammad Ikhsan Amar, Nanang Nasrulloh, Ikha Deviyanti Puspita dkk. — Jurnal Epidemiologi Kesehatan Komunitas (2024)
0 sitasi
04
ANALISIS SPASIAL INDIKATOR FAKTOR RISIKO STUNTING TERHADAP BALITA STUNTING KOTA PALEMBANG TAHUN 2022
Gea Salsabila, Najmah Najmah, Fenty Aprina dkk. — Jurnal Ilmiah Kesehatan (2024)
0 sitasi
05
FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USI 24-59 BULAN
Nuraeni Admin, Masayu Dian Khairani, Abdullah dkk. — Jurnal Gizi Aisyah (2024)
0 sitasi
06
Meta-Analysis: Faktor Risiko Maternal terhadap Kejadian Stunting pada Balita di Indonesia
Mitha Safutri — Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat (2024)
0 sitasi
07
ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA 24-59 BULAN DI LOKASI FOKUS STUNTING KOTA KENDARI
Anggraini, Harleli, Listy Handayani — Journal of Health Sciences Leksia (JHSL) (2024)
0 sitasi
08
ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI PUSKESMAS TERAS TERUNJAM KABUPATEN MUKO-MUKO
Retni Retni, Mariza Arfianti — Journal of Nursing and Public Health (2024)
0 sitasi
09
FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA ANAK BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TARAWEANG, PANGKEP TAHUN 2023
Salsabila Aulia Faizal, Andi Zulkifli Abdullah, Ridwan Amiruddin — Hasanuddin Journal of Public Health (2024)
0 sitasi
10
Gambaran Pemetaan Faktor Risiko Stunting Pada Balita Stunting di Desa Ampadi Kabupaten Landak Tahun 2023
Rika Mandasary Sitepu, Linda Suwarni, Selviana Selviana — Avicenna Jurnal Ilmiah (2024)
0 sitasi
Tampilkan semua 10 jurnal ▾
202319 jurnal

Riset-riset yang terbit sepanjang 2023 mengkaji faktor risiko stunting pada balita dari sudut gizi, lingkungan, dan pelayanan kesehatan. Secara umum, penyebabnya bermuara pada kekurangan gizi kronis yang berlangsung sejak masa kehamilan, diperparah penyakit infeksi dan sanitasi buruk. Berbagai studi di Sumatra, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa menunjukkan prevalensi stunting yang bervariasi; di Pidie Jaya bahkan mencapai 37,8 persen dengan cakupan imunisasi sangat rendah. Beberapa kajian juga menegaskan dampak jangka panjang stunting: meningkatnya risiko kesakitan, keterlambatan perkembangan, dan gangguan kemampuan belajar.

  • Kekurangan gizi kronis sejak kehamilan dan infeksi berulang menyebabkan gagal tumbuh pada balita.
  • Sanitasi lingkungan yang buruk serta jamban tidak sehat memperbesar risiko stunting di Sumatra.
  • Cakupan imunisasi rendah berhubungan dengan prevalensi stunting tinggi, misalnya di Pidie Jaya.
Jurnal kunci
01
Faktor Risiko Kejadian Stunting pada Anak Balita : Literature Review
Evi Firna, Asih Setiarini — Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) (2023)
3 sitasi
02
Faktor Risiko Stunting pada Balita di Indonesia
Bayu Prabowo, Yuly Peristiowati — Journal of Telenursing (JOTING) (2023)
3 sitasi
03
Faktor Risiko Lingkungan Kejadian Stunting Pada Balita 0-59 Bulan Di Kecamatan Ulim Pidie Jaya
Tiara Mairani, Agustina Agustina, Phossy Vionica Ramadhana — Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (2023)
2 sitasi
04
Analisis Faktor Risiko Stunting pada Balita di Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua Kota Padangsidimpuan
Nurhalimah Batubara, Anto Jamma Hadi, Haslinah Ahmad dkk. — Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) (2023)
1 sitasi
05
Faktor Risiko Kejadian Stunting pada Balita di Desa Gelangsar Kecamatan Gunung Sari
Aena Mardiah, Dany Karmila, Sukandriani Utami dkk. — Jurnal Formil (Forum Ilmiah) Kesmas Respati (2023)
1 sitasi
06
ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA BALITA (24-59 BULAN) DI KOTA KOTAMOBAGU
St. Rahmawati Hamzah — Journal Health & Science Gorontalo Journal Health and Science Community (2023)
1 sitasi
07
Faktor Risiko Stunting pada Bayi dan Balita (Anak Usia 0-59 Bulan) di Wonosobo
Fibrinika Tuta Setiani, Abdullah Azam Mustajab — Malahayati Nursing Journal (2023)
1 sitasi
08
KAJIAN PUSTAKA: GAMBARAN SANITASI LINGKUNGAN SEBAGAI FAKTOR RISIKO DARI KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI SUMATRA
Nur Habibatus Sholihah, Regita Dewiarti, Arkanaya Alya Azis dkk. — Jurnal Medika Malahayati (2023)
1 sitasi
09
ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI DESA RAGEMANUNGGAL WILAYAH KERJA PUSKESMAS SETU II BEKASI
Suji Astuti, Lia Idealistiana — Jurnal Ilmiah Keperawatan (Scientific Journal of Nursing) (2023)
1 sitasi
10
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Risiko Terjadinya Stunting pada Balita
Yayuk Liliana Ernawati, Yessy Nur Endah Sari, Agustina Widayati — JURNAL ILMIAH OBSGIN Jurnal Ilmiah Ilmu Kebidanan & Kandungan (2023)
0 sitasi
11
Faktor Risiko Lingkungan Terhadap Stunting Pada Balita
Putri Nur Riani, Budiyono Budiyono, N Nurjazuli — Jurnal Keperawatan Muhammadiyah (2023)
0 sitasi
12
Determinan Faktor Risiko Terhadap Kejadian Stunting Pada Balita
Minarti Minarti, Fitri Faridahtul Aulia Nasution Nasution, Dewi Ciselia dkk. — J Jurnal Kebidanan Jurnal Ilmu Kesehatan Budi Mulia (2023)
0 sitasi
13
Faktor Risiko Stunting pada Balita Usia 24-59 Bulan di Sukoharjo
Anindhita Yudha Cahyaningtyas, Triana Mirasari — Profesi (Profesional Islam) Media Publikasi Penelitian (2023)
0 sitasi
14
Faktor Risiko Kejadian Stunting Pada Balita di Puskesmas Abeli Kota Kendari
Agmi Kurniati Ningsih, La Ode Hamiru, Juslan — Jurnal Healthy Mandala Waluya (2023)
0 sitasi
15
FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI LAHAN BASAH
Wahyuni Wahyuni, Muhammad Alif Yunus, Ronald Christian Madika dkk. — Jurnal Kesehatan Tambusai (2023)
0 sitasi
16
KERAGAMAN PANGAN BALITA DAN PENGELUARAN PANGAN SEBAGAI FAKTOR RISIKO STUNTING PADA BALITA
Anggita Deva Ardianti, Sri Sumarmi — Jurnal Kesehatan Tambusai (2023)
0 sitasi
17
Prevalensi dan faktor risiko stunting pada anak balita usia 0-59 bulan
Suhartati Surbakti, Myrnawati Crie Handini, Johansen Hutajulu dkk. — Jurnal Prima Medika Sains (2023)
0 sitasi
18
PERILAKU PEMBERIAN ASI SEBAGAI FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA BALITA
Shinta Wulandari, Rodiyah Soekardi, Merita Eka Rahmuniyati — Jurnal Kesehatan Tambusai (2023)
0 sitasi
19
Faktor Risiko Penyebab Stunting pada Balita Usia 6-36 Bulan
Sigit Ambar Widyawati, Yuliaji Siswanto, Alfan Afandi — Indonesian Journal of Midwifery (IJM) (2023)
0 sitasi
Tampilkan semua 19 jurnal ▾
202217 jurnal

Riset-riset tahun 2022 tentang stunting balita menyoroti faktor risiko dari sisi ibu dan asuhan gizi. Satu studi global menyebut 21,3% balita dunia—sekitar 144 juta anak—mengalami stunting. Di Indonesia, kajian dilakukan di NTB, Makassar, Palopo, Pekanbaru, hingga Bandar Lampung. Faktor risiko yang menonjol: pengetahuan ibu yang kurang, pemeriksaan kehamilan tidak terbaik, ASI tidak eksklusif, dan MPASI tidak tepat. Rendahnya cakupan layanan kesehatan serta 1.000 hari pertama kehidupan juga menjadi sorotan. Dampaknya mencakup gangguan kognitif dan psikomotorik, sehingga pencegahan dini sangat diperlukan.

  • Kurang pemeriksaan kehamilan dan ASI tidak eksklusif meningkatkan risiko stunting.
  • Pengetahuan gizi ibu yang rendah menghambat pemenuhan kebutuhan balita.
  • Stunting berdampak pada gangguan kognitif, psikomotorik, dan prestasi anak.
Jurnal kunci
01
Faktor Risiko Kejadian Stunting pada Balita di Negara Berkembang
Qurratu Falmuariat, Thresya Febrianti, Mustakim Mustakim — JURNAL ILMIAH KESEHATAN SANDI HUSADA (2022)
12 sitasi
02
FAKTOR RISIKO BALITA STUNTING DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT
Irni Setyawati, Baiq Nining Handayani, Agus Supinganto — JOMIS (Journal of Midwifery Science) (2022)
5 sitasi
03
CEGAH STUNTING DENGAN EDUKASI FAKTOR-FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA BALITA
Ratna Feti Wulandari, Ratih Kusuma Wardhani, Mohammad Ikhwan Khosasih — ABDIMASNU Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (2022)
5 sitasi
04
Faktor Risiko Ibu pada Saat Hamil dengan Kejadian Stunting pada Anak Balita di Kota Pekanbaru
Rani Khairunisa, Mitra Mitra, Christine Vita Gloria Purba dkk. — Jurnal Kesehatan Global (2022)
4 sitasi
05
FAKTOR RISIKO STUNTING PADA BALITA DI PUSKESMAS TAMALATE KOTA MAKASSAR TAHUN 2022
Alfrida Sanda, Ridwan Amiruddin, Rismayanti Rismayanti — Hasanuddin Journal of Public Health (2022)
3 sitasi
06
Faktor risiko kejadian stunting pada balita di kota palopo
Nurlaeli Nurlaeli, Resty Ryadinency, Ayu Irawati — Darussalam Nutrition Journal (2022)
2 sitasi
07
Analisis Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Peningkatan Risiko Stunting pada Anak Balita di Kota Bandar Lampung
Dessy Hermawan, Devi Kurniasih, Nurhalina Nurhalina dkk. — Malahayati Nursing Journal (2022)
2 sitasi
08
Faktor-Faktor Risiko Terjadinya Stunting pada Balita di Puskesmas Kassi-Kassi Kota Makassar Periode Januari 2022
Muhammad Rias Sukiman, Aryanti R. Bamahry, Andi Alamanda Irwan dkk. — FAKUMI MEDICAL JOURNAL Jurnal Mahasiswa Kedokteran (2022)
2 sitasi
09
Faktor-faktor Risiko Stunting pada Balita di Indonesia: Suatu Scoping Review
Silvia Sagita, Kemal N. Siregar — Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) (2022)
1 sitasi
10
Faktor Risiko Kejadian Stunting Pada Anak Balita Usia 3- 5 Tahun
Umianita Risca Wulandari, Dian Kumalasari — Jurnal Kebidanan (2022)
1 sitasi
11
Determinan Faktor Risiko Kejadian Stunting Berdasarkan Pemetaan Kasus Stunting pada Balita dengan Geographic Information System (GIS)
Happy Novriyanti Purwadi, Dessy Oktaviani, Kamaluddin Latief — Faletehan Health Journal (2022)
1 sitasi
12
Faktor Risiko Terjadinya Stunting Pada Anak Usia Balita
Khofifah Nuril Fauziyah, Dhiana Setyorini, Indriatie dkk. — Jurnal Keperawatan (2022)
0 sitasi
13
FAKTOR RISIKO STUNTING BALITA 0-23 BULAN DI INDONESIA
Sudikno Sudikno, Sugeng Eko, Irlina Raswanti Irawan dkk. — Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) (2022)
0 sitasi
14
Faktor Risiko Kejadian Stunting Pada Balita di Desa Pandan Sejahtera
Liandra Abimayu, Sugiarto Sugiarto, Subakir Subakir — JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE (2022)
0 sitasi
15
Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting Pada Balita : Studi Literatur
Nur Fauzatul Hidayati, Nur Fauzatul Hidayati, Tati Nuryati — Jurnal Kesehatan Madani Medika (2022)
0 sitasi
16
FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING TERHADAP BALITA USIA 6-59 BULAN DI DESA TAMANNYELENG
Liliskarlina Liliskarlina, Hadzmawaty Hamzah, Fitriyastuti Fitriyastuti — Patria Artha Journal of Nursing Science (2022)
0 sitasi
17
DETERMINAN FAKTOR RISIKO STUNTING PADA BALITA DETERMINANTS OF STUNTING RISK FACTORS IN TODDLERS
Sulastry Pakpahan, Elly Sianturi — Jurnal Ilmiah PANNMED (Pharmacist Analyst Nurse Nutrition Midwivery Environment Dentist) (2022)
0 sitasi
Tampilkan semua 17 jurnal ▾
20218 jurnal

Sepanjang 2021, peneliti di sejumlah daerah—dari Kota Palu, Lampung Tengah, Bireuen, Galesong, hingga Gianyar—membedah mengapa balita masih tumbuh pendek. Fokusnya bergeser ke faktor ibu dan rumah tangga: gizi selama 1000 hari pertama kehidupan, riwayat kehamilan, serta kondisi lingkungan tempat anak dibesarkan. Pandemi Covid-19 muncul sebagai konteks baru yang membatasi akses layanan posyandu dan pemantauan pertumbuhan. Temuan lintas studi menegaskan stunting bukan soal makanan semata, melainkan hasil berlapis dari pendidikan ibu, ekonomi keluarga, sanitasi, dan pola asuh. Karena itu, pencegahan dinilai paling efektif bila menyasar periode emas sejak kehamilan, bukan setelah anak terlanjur pendek.

  • Gizi 1000 hari pertama kehidupan jadi penentu utama, peran ibu krusial
  • Pandemi Covid-19 membatasi akses posyandu dan pemantauan tumbuh kembang balita
  • Lingkungan, ekonomi keluarga, dan sanitasi melengkapi risiko selain asupan makan
Jurnal kunci
01
FAKTOR RISIKO STUNTING PADA BALITA
Winarni Hamzah, Haniarti Haniarti, Rini Anggraeny — Jurnal Surya Muda (2021)
9 sitasi
02
Faktor Risiko Dari Ibu Pada Kejadian Balita Stunting
Susanto Susanto, Hebert Adrianto — SRIWIJAYA JOURNAL OF MEDICINE (2021)
7 sitasi
03
Analisis Faktor-Faktor Risiko Stunting Anak Balita pada Masa Pandemi Covid-19 di Puskesmas Tawaeli Kota Palu Tahun 2020
Fadly Umar, Nurhaeda, Juwita Juwita — Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) (2021)
4 sitasi
04
FAKTOR RISIKO STUNTING PADA ANAK BALITA DI KABUPATEN LAMPUNG TENGAH
Milantika Kristanti, Nayla Kamilia Fithri — Ruwa Jurai Jurnal Kesehatan Lingkungan (2021)
3 sitasi
05
ANALISIS FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA
Supriyatun Supriyatun — JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) (2021)
2 sitasi
06
FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI KECAMATAN GANDAPURA KABUPATEN BIREUEN
Apriany Ramadhan Batubara, Feti Mellita — JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE (2021)
1 sitasi
07
Faktor Risiko Kejadian Stunting Pada Anak Balita Di Desa Pa'lalakkang Kecamatan Galesong
Alfian S. Abas, Fatmah Afrianty Gobel, Arman Arman — Journal of Aafiyah Health Research (JAHR) (2021)
1 sitasi
08
KEJADIAN DAN FAKTOR RISIKO STUNTING PADA BALITA DI DESA TARO, KECAMATAN TEGALLALANG, KABUPATEN GIANYAR
Pande Putu Yoga Kamayana, Luh Seri Ani, I Wayan Weta — E-Jurnal Medika Udayana (2021)
0 sitasi
Tampilkan semua 8 jurnal ▾
20204 jurnal

Empat studi tahun 2020 menelusuri faktor risiko stunting pada balita di tiga latar yang jauh berbeda: kawasan tambang emas Poboya di Kota Palu, wilayah dataran rendah versus dataran tinggi di Sulawesi Selatan, serta Kabupaten Kerinci, Jambi. Semuanya bertolak dari angka prevalensi yang masih tinggi — di Kerinci mencapai 35% pada 2018 — dan dari pemahaman bahwa stunting adalah masalah gizi kronis yang tak bisa dipulihkan dalam waktu singkat. Benang merahnya: risiko stunting tidak berdiri sendiri, melainkan bertumpuk pada kondisi lingkungan, paparan wilayah, dan karakteristik keluarga di masing-masing tempat. Karena itu, penanganannya pun perlu disesuaikan dengan konteks lokal, bukan diseragamkan.

  • Prevalensi stunting balita di Kabupaten Kerinci tercatat 35% pada 2018
  • Risiko stunting dibandingkan antara balita di dataran rendah dan dataran tinggi
  • Lingkungan tambang emas Poboya ditelusuri sebagai latar risiko pada balita 12–59 bulan
  • Faktor risiko berbeda antarlokasi, sehingga intervensi perlu menyesuaikan konteks wilayah
Jurnal kunci
01
Faktor Risiko Kejadian Stunting Pada Balita Usia 12-59 Bulan Di Wilayah Tambang Poboya, Kota Palu
Resti Agustia, Nurdin Rahman, Hermiyanty Hermiyanty — Ghidza Jurnal Gizi dan Kesehatan (2020)
18 sitasi
02
Faktor Risiko Stunting pada Balita (Studi Perbedaan antara Dataran Rendah dan Dataran Tinggi)
Satriani Satriani, Ari Yuniastuti — Jurnal Dunia Gizi (2020)
8 sitasi
03
Faktor Risiko Kejadian Stunting pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Semurup
Puti Ana Lestari, Ratna Sari Dewi, Suroso Suroso — Jurnal Kesehatan Masyarakat Mulawarman (JKMM) (2020)
5 sitasi
04
Faktor Risiko Kejadian Stunting Pada Balita di Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi
Eti Kurniawati — Journal of Health Science and Physiotherapy (2020)
4 sitasi
20194 jurnal

Sepanjang 2019, peneliti di Bogor, Gorontalo, dan Kupang membedah mengapa balita bisa tumbuh pendek. Pola yang muncul konsisten: stunting bukan semata soal asupan makan, tetapi berkelindan dengan lingkungan rumah dan layanan kesehatan. Akses jamban dan sanitasi dasar yang buruk termasuk pemicu utama, terutama pada anak usia 6–59 bulan. Faktor sosial-ekonomi keluarga, pendidikan ibu, serta riwayat pemberian makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi juga memperbesar peluang anak kerdil. Temuan ini menegaskan bahwa pencegahan stunting butuh pendekatan lintas sektor, bukan hanya intervensi gizi semata.

  • Sanitasi dasar buruk dan keterbatasan jamban meningkatkan risiko stunting pada balita 6–59 bulan
  • Faktor sosial-ekonomi dan pendidikan ibu berperan dalam kejadian balita pendek
  • Pemberian makanan yang tak sesuai kebutuhan gizi memicu kurang gizi kronis
  • Stunting di berbagai daerah punya corak faktor risiko yang khas wilayah
Jurnal kunci
01
FAKTOR RISIKO STUNTING PADA BALITA DIKELURAHAN MULYAHARJA TAHUN 2019
Fenti Dewi Pertiwi, Muhammad Hariansyah, Eska Perdana Prasetya — PROMOTOR (2019)
71 sitasi
02 48 sitasi
03
FAKTOR RISIKO BALITA PENDEK (STUNTING) DI KABUPATEN GORONTALO
Siti Surya Indah Nurdin, Dwi Nur Octaviani Katili — JURNAL ANTARA KEBIDANAN (2019)
8 sitasi
04
ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS OEPOI
President Venuz Venezea Lema, Kresnawati Wahyu Setiono, Regina Maya Manubulu — Cendana Medical Journal (2019)
8 sitasi
20183 jurnal

Sepanjang 2018, riset stunting balita menyorot faktor risiko yang dapat dicegah sejak awal kehidupan. Kajian literatur di negara berkembang dan Asia Tenggara menegaskan stunting sebagai gangguan pertumbuhan linear akibat malnutrisi kronis, dengan perawakan pendek berkontribusi pada 2,2 juta kematian balita di dunia. Studi di Padang dan Aceh Timur menelusuri faktor risiko di tingkat puskesmas; di Padang, panjang badan lahir dan berat badan lahir termasuk faktor yang diperiksa, sementara tingginya prevalensi nasional 29% menjadi konteks. Temuan ini menegaskan pentingnya pemantauan faktor risiko sejak awal kehidupan.

  • Stunting merupakan gangguan pertumbuhan linear akibat malnutrisi kronis.
  • Perawakan pendek balita berkontribusi pada 2,2 juta kematian balita dunia.
  • Panjang dan berat badan lahir termasuk faktor risiko stunting yang diperiksa.
Jurnal kunci
01
Analisis Faktor-Faktor Risiko terhadap Kejadian Stunting pada Balita (0-59 Bulan) di Negara Berkembang dan Asia Tenggara
Gladys Apriluana, Sandra Fikawati — Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (2018)
230 sitasi
02
GAMBARAN FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS NANGALO KOTA PADANG
Dian Febrida Sari, Reski Oktacia — JURNAL KESEHATAN MERCUSUAR (2018)
12 sitasi
Tahun lainnya2011–2014, 2017

Sepanjang 2011–2017 sejumlah kajian menyorot mengapa balita Indonesia tetap pendek. Wilayah yang disisir luas: Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Semarang Timur, Kendal, sampai Mataram, dengan rentang usia 12–59 bulan. Hampir semuanya memakai desain potong lintang; hanya satu yang mencoba pendekatan longitudinal. Angka setempat memang mengkhawatirkan: Kendal 42%, Semarang Timur 40%, Mataram 37,17%. Salah satu studi terbesar melibatkan 1.239 balita di empat provinsi Sumatera. Benang merahnya jelas: stunting bukan akibat satu sebab, melainkan buntut dari berat lahir rendah, panjang lahir pendek, tinggi dan pendidikan ibu, ekonomi keluarga, sanitasi, serta asupan gizi yang kurang.

  • Prevalensi lokal tinggi: Kendal 42%, Semarang Timur 40%, Mataram 37,17%
  • Berat lahir rendah dan panjang lahir pendek jadi penanda risiko utama
  • Tinggi badan dan pendidikan ibu rendah memperbesar peluang anak stunting
  • Sanitasi buruk dan asupan gizi kurang melengkapi daftar faktor risiko
  • Bukti mayoritas dari studi potong lintang, longitudinal masih jarang
Jurnal kunci
01 3 sitasi
02
FAKTOR RISIKO STUNTING PADA BALITA (24—59 BULAN) DI SUMATERA
Zilda Oktarina, Trini Sudiarti — Jurnal Gizi dan Pangan (2014)
127 sitasi
03
FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA 12 BULAN DI DESA PURWOKERTO KECAMATAN PATEBON, KABUPATEN KENDAL
Friska Meilyasari, Muflihah Isnawati — Journal of Nutrition College (2014)
58 sitasi
04
Faktor risiko balita stunting usia 12-36 bulan di Puskesmas Dasan Agung, Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat
Imtihanatun Najahah, Kadek Tresna Adhi, Gede Ngurah Indraguna Pinatih — Public Health and Preventive Medicine Archive (2013)
26 sitasi
05
FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA 24 – 36 BULAN DI KECAMATAN SEMARANG TIMUR
Roudhotun Nasikhah, Ani Margawati — Journal of Nutrition College (2012)
122 sitasi
06
Studi longitudinal faktor risiko terjadinya balita stunting
Fitrah Ernawati, Yuniar Rosmalia — Jurnal (2011)
0 sitasi
Tampilkan semua 6 jurnal ▾

Arah riset ke depan

Cari jurnal lebih lanjut: Google Scholar →

Sumber: OpenAlex. Ringkasan disusun dari abstrak jurnal — untuk detail lengkap, selalu cek jurnal aslinya via tautan.